Bagaimana Isi Surat Sayyidina 'Umar bin Khaththab untuk Sungai Nil ?



Islamoderat.com ~ Suatu ketika Khalifah 'Umar bin Khattab mengirim satu pasukan dalam sebuah misi yang dipimpin oleh seorang laki-laki bernama Sariyyah.

Tatkala 'Umar bin Khattab sedang khutbah di atas mimbar pada hari Jum'at tiba-tiba ia berhenti sejenak dari uraian khutbahnya dan berkata: "Wahai Sariyyah, ke gunung! Ke gunung! Ke gunung!" Kemudian 'Umar bin Khattab melanjutkan khutbah Jum'atnya. Orang-orang yang hadir di Masjid itu saling berpandangan, sebagian mengatakan, "dia telah gila, sesungguhnya dia telah gila."

Sayyidina Ali bin Abi Thalib yg juga ada di situ berkata kepada mereka, "pasti yang dia katakan itu akan keluar seperti apa adanya."

Setelah itu Abdur Rahman datang menemui 'Umar di rumahnya. Dia adalah orang yang sangat percaya terhadap semua yang diucapkan 'Umar.

Dia berkata, "Sungguh berat untuk mencaci mereka demi membelamu. Sesungguhnya engkau telah membuka peluang bagi terjadinya polemik tatkala engkau sedang berkhutbah, tiba-tiba engkau berteriak wahai Sariyyah ke gunung! Apa maksudnya itu wahai Amirul Mukminin?"

'Umar bin Khattab berkata, "demi Allah, sesungguhnya saya tidak mampu membendung apa yang mesti saya ucapkan saat itu. saya melihat mereka (pasukan Sariyyah) berperang di sebuah gunung dan mereka diserang dari seluruh arah, dari muka dan belakang. maka saya tidak tahan untuk mengatakan apa yg telah saya katakan, "Wahai Sariyyah ke gunung, agar kaum muslimin berlindung di gunung itu."

Tak berapa lama kemudian datanglah utusan Sariyyah utusan itu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kami bertempur pada hari Jum'at, saat itu kami telah terdesak kalah. Namun tatkala kami berada dalam kondisi demikian, kami mendengar teriakan yang memerintahkan: "Wahai Sariyyah, ke gunung!" Ucapan itu kami dengar sebanyak tiga kali. Oleh sebab itulah kami menyandarkan punggung kami ke gunung hingga kami mampu mengalahkan musuh kami."

Tatkala Mesir dibuka oleh kaum muslimin, penduduk Mesir datang menemui 'Amr bin 'Ash yang menjabat sebagai gubernur.

pada saat sudah masuk satu bulan yg dianggap sakral oleh penduduk Mesir. Orang2 Mesir itu berkata, "Wahai gubernur, sesungguhnya Nil ini memiliki kebiasaan dimana dia tdk akan mengalir kecuali dg tradisi tersebut. 'Amr bin 'Ash berkata: "Tradisi apakah itu?"

"Jika masuk tanggal 11 bulan ini, kami akan mencari seorang gadis, kami minta kedua orang tuanya untuk memberikannya dengan suka rela kami hiasi gadis itu dengan baju dan perhiasan yang paling indah, kemudian kami lemparkan dia ke sungai Nil ini." Jawab penduduk Mesir.

"Ini tidak mungkin dilakukan dalam Islam" kata 'Amr bin 'Ash.

Penduduk Mesir patuh oleh apa yang telah dikatakan 'Amr bin 'Ash. Ternyata sungai Nil itu kering dan tidak mengalirkan air sedikit pun. Hingga kebanyakan penduduk berencana untuk melakukan Hijrah.

Tatkala melihat kondisi yg demikian, 'Amr bin 'Ash menulis surat kepada Khalifah 'Umar bin Khattab. Dalam surat itu dia menerangkan bahwa mereka ditimpa musibah, dia jelaskan kronologinya termasuk tentang tradisi masa lalu itu.

Kemudian 'Umar bin Khattab menulis surat kepada 'Amr bin Ash yang di dalamnya ada nota kecil. Dalam surat 'Umar menulis: "Sesungguhnya saya telah mengirim kepadamu dalam suratku nota kecil maka lemparlah nota kecil itu ke sungai Nil."

Tatkala surat 'Umar sampai di tangan 'Amr bin Al 'Ash, dia mengambil nota kecil & membukanya, ternyata di dlmnya berisi tulisan sbg berikut:  Dari hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, amma ba'du. Jika kau mengalir karena dirimu sendiri maka janganlah engkau mengalir, namun jika yang mengalirkan airmu adalah Allah, maka mintalah kepada Allah Yang Mahakuasa untuk mengalirkanmu kembali."

'Amr bin 'Ash kemudian melemparkan nota kecil itu ke sungai Nil. Allah mengalirkan sungai Nil dengan kadar 16 dzira' dalam 1 malam.

Dengan terjadinya peristiwa itu, Allah telah menghancurkan tradisi jahiliyah dari penduduk Mesir hingga sekarang.

sekian, terima kasih sudah menyimak semoga bermanfaat.

#TadarusTwit : Karomah Amirul Mukminin Sayyidina 'Umar bin Khattab.
Oleh : @Iqbal_Kholidi