ISIS : Jalan Darah Atas Nama Sejarah


Islamoderat.com ~ Sebagai anak haram Al Qaeda, IS (ISIS) telah mewarisi kebutralan Al Qaeda secara Kaffah bahkan melampauinya. Mulai dari menjarah, menyembelih dan menebas kepala orang syiah, membakar hidup-hidup tawanan, menjajah wilayah demi Khilafah, perbudakan, menyandera demi tebusan uang, menghancurkan peninggalan peradaban sejarah, semua dicap Bid'ah, sampai mengancam kota Mekkah dan masih banyak lagi, semua IS lakukan atas nama Syariah, memuliakan Aqidah.

Perlu diketahui dan mewaspadai kini IS tidak hanya bertindak brutal menggunakan dalil pembenaran Syariah, akan tetapi juga atas nama sejarah. Misalnya sebagai berikut, (ini sering terjadi) banyak yang mempertanyakan kenapa IS tidak menyerang Israel atau membebaskan Palestina, tapi malah memerangi negara muslim seperti Irak atau Suriah? IS melalui pendukungnya di jagad maya dengan kompak menggunakan dalil sejarah bahwa dahulu Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya tidak memprioritaskan membebaskan Masjidil Aqsha (Jerusalem) tapi membebaskan kota Makkah terlebih dulu (Fathul Makkah) baru ketika masa Khalifah Umar bin Khattab Jerusalem dibebaskan.

Alasan kedua yang juga sering digunakan adalah bahwa Sultan Shalahuddin Al Ayyubi dulu sebelum membebaskan Jerusalem terlebih dahulu menghancurkan Dinasti Fathimiyah yang berkuasa di Mesir. Kisah-kisah seperti ini terus dihembuskan oleh pendukung IS sebagai dalil pembenaran memerangi Syiah di Irak dan Suriah dari pada memerangi Israel (Yahudi). Padahal kisah Fathul Makkah ini bisa bermakna manifestasi cinta tanah air Nabi Muhammad SAW, beliau yang terusir dan menetap di Madinah akhirnya kembali ke tanah kelahirannya Makkah, membebaskannya dengan damai. Begitu pun kisah Shalahuddin al Ayyubi yang membebaskan Jerusalem yang dikaitkan dengan hancurnya Dinasti Fathimiyah (Syiah) Mesir, padahal faktor utama Dinasti Fathimiyah tersebut runtuh akibat perpecahan internal keluarga. Makam Shalahuddin Al Ayyubi ada di Masjid Umayah, Damaskus Suriah dan buktinya aman-aman saja di bawah kekuasaan pemerintah Suriah selama ini.

Ketika IS mendeklarasikan Khilafah dan diprotes oleh pegiat Khilafah lainnya karena IS hanya menguasai sedikit wilayah, IS mengaitkan peristiwa ini dengan kisah saat Abu Bakar Asshiddiq menjadi Khalifah yang hanya memimpin kota Madinah saja. Begitu lancangnya mereka meng-qiyaskan Khilafah yang dipimpin Sahabat Nabi Abu Bakar Ash Siddiq Dengan Khilafah khayalan pimpinan buronan Abu Bakar Al Baghdadi.

Sementara tentang aksi-aksi IS menghancurkan situs-situs sejarah warisan berharga peradaban dunia di Irak, IS beralasan menghancurkan berhala, lalu mengaitkan seperti kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala. IS bahkan mengancam akan meratakan Piramida di Mesir. Jika alasannya itu, kenapa harus jauh-jauh merujuk ke Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Apakah IS tidak tahu, Khalifah ke-4 Sayyidina Ali bin Thalib hidup dan berjuang di Irak tak sekalipun memusnahkan situs kuno yang keberadaannya telah ada sebelum Islam hadir? Begitu juga ketika Khalifah Umar bin Khattab membuka Mesir dan mengangkat Amr bin Ash sebagai Gubernur Mesir tidak menghancurkan Piramida, artinya keberadaan situs-situs tersebut aman-aman saja mulai dari masa Khalifah, Raja, Sultan hingga negara modern.

Maka dari itu, Khilafah yang didirikan IS ini sejatinya lebih pantas dikatakan Khilafah cita rasa Jahiliyah.

Oleh : Iqbal Kholidi
foto: IS di Libya mengeksekusi 30 warga Ethiopia, video menampilkan 2 eksekusi: disembelih dan ditembak.