Menjawab Tuduhan Miring terhadap Tashawuf



Islamoderat.com ~ Shufi dan tashawuf telah berperan besar dalam perkembangan dakwah dan ajaran Islam. Meski demikian, terdapat pihak-pihak yang tidak menyukai kaum shufi dan ajaran tashawuf. Menurut mereka, istilah shufi dan tashawuf tidak dikenal di zaman Rasulullah, karenanya ia dituduh sebagai ajaran bid’ah. Bahkan kelompok ini memberikan tuduhan miring bahwa tashawuf itu sisipan terhadap Islam, bukan ajaran Islam itu sendiri. Sementara secara praktik, menurut mereka, kaum shufi itu hanya “sibuk dengan dirinya sendiri”, alias tidak mau melaksanakan jihad untuk memperjuangkan agama. Apakah tuduhan-tuduhan ini benar?

Ketua PCNU Jember Dr KH Abdullah Syamsul Arifin


Ketua PCNU Jember Jawa Timur Dr KH Abdullah Syamsul Arifin menjawab semua persepsi miring tersebut. Dia mematahkan argumen pihak yang tidak menyukai tashawuf tersebut dengan kenyataan ilmiah dan sejarah. Berikut perbincangan Faris Khoirul Anam dengan kiai muda yang biasa disapa Gus Aab ini.

 ****
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan tashawuf?

Secara bahasa, kata tashawwuf, adalah nisbah terhadap akar kata shuf (baju wol), sehingga memiliki arti “memakai baju wol”. Seperti halnya kata taqammush yang berarti memakai baju kemeja, nisbah terhadap akar kata qamish (baju kemeja). Dari sini, secara sepintas agaknya dapat disimpulkan bahwa tashawuf berhubungan erat dengan penampilan, mode, dan formalitas, yaitu memakai baju wol. Namun demikian, dalam kenyataannya, tashawuf tidak berkaitan dengan penampilan, mode dan formalitas. Kata tashawuf, yang semula membawa arti penampilan, mode dan formalitas, yaitu memakai baju wol, kini telah mengalami perkembangan dan perubahan, sebagai nama bagi sebuah prinsip kehidupan yang menjauhkan diri dari keduniaan.

Tashawuf telah menjadi tanda bagi mereka yang menekuni kezuhudan dan ibadah. Tashawuf telah menjadi nama bagi mereka yang menjauhkan dirinya dari gemerlapnya duniawi.

Bagi mereka yang menjalankan kezuhudan, sangat ditekankan adanya kesederhanaan dan kebersahajaan. Dan kebetulan, dari aspek pakaian, baju wol sangat cocok dengan mereka, disamping baju wol itu kuat, murah, kasar dan cukup bagi mereka saat musim hujan, juga tidak cepat usang, sehingga mereka memakainya, yang dalam bahasa Arab disebut tashawwaf (memakai baju wol).

Sementara secara istilah, ada sekitar seribu macam definisi tashawuf yang berlaku di dunia shufi. Akan tetapi dari sekian banyak pengertian itu, hanya beberapa definisi saja yang dapat mewakili definisi tashawuf secara utuh. Di antaranya adalah definisi Abu Sa’id al-Kharraz. Ketika ditanya tentang definisi seorang shufi, ia menjawab, “Orang yang disucikan hatinya oleh Allah, sehingga hatinya penuh dengan cahaya, dan orang yang memasuki hakikat kelezatan dengan berzikir kepada Allah.”

Mulai kapan istilah shufi ini dikenal?

Menurut sejarawan Ibn Khaldun, istilah shufi dan tashawuf belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat pada abad pertama Hijriyah. Namun istilah shufi dan tashawuf baru dikenal secara luas sejak abad ke-2 H. Pada masa Rasulullah saw sendiri tidak seorang pun dari sahabat beliau yang menyandang gelar shufi. Nama shufi memang tidak menjadi julukan seorang pun dari sahabat. Persahabatan dengan Rasulullah saw memiliki kehormatan istimewa. Karenanya tidak boleh memberi suatu gelar kepada mereka yang kesannya lebih istimewa daripada gelar sahabat. Akan tetapi tidak dipungkiri bahwa para sahabat adalah teladan kaum shufi dalam hal kezuhudan, ibadah, tawakal, fakir, rida, kesabaran dan ketaatan kepada Allah. Mereka memperoleh semua itu karena barakah persahabatan mereka dengan Rasul saw.

Namun demikian, bukan berarti istilah shufi belum pernah dikenal sejak permulaan Islam. Bahkan ada indikasi bahwa istilah shufi telah dikenal sejak paruh kedua abad pertama Hijriyah. Pada masa al-Hasan al-Bashri (21-110 H/642-729 M), istilah shufi telah dikenal di kalangan masyarakat. Al-Hasan al-Bashri telah mengikuti masa sekian banyak sahabat Nabi saw. Dalam satu riwayat, al-Hasan berkata, “Aku pernah melihat seorang shufi bertawaf di Baitullah. Lalu aku memberinya sesuatu, tetapi ia menolak untuk mengambilnya dan berkata, ‘Aku memiliki empat Daniq, yang cukup buat keperluanku.”

Dalam konteks keilmuan, istilah shufi telah digunakan oleh kalangan shufi sejak paruh pertama abad ke-2 H. Hal ini setidaknya dapat diketahui dengan memperhatikan riwayat al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashfahani, dari Imam Ja’far ibn Muhammad al-Shadiq radhiyallahu ‘anhu yang pernah berkata: “Barangsiapa menjalani kehidupan Rasul saw secara lahir, maka ia seorang sunni. Dan barangsiapa menjalani kehidupan Rasul saw secara batin, maka ia seorang shufi.”

Sebagian pihak menyatakan tashawuf ini adalah sesuatu yang bid’ah. Bagaimana sebenarnya?

Memang berbagai pertanyaan, yang pada hakikatnya gugatan terhadap dunia shufi dan tashawuf hingga kini masih terus berlangsung. Di antara pertanyaan yang seringkali diarahkan terhadap tashawuf adalah: “Bukankah dalam ajaran al-Quran, hadits-hadits dan sirah Rasul saw sendiri, terdapat sekian banyak macam pendidikan dan aneka ragam ibadah yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan hati, memperbaiki akhlak, mengantarkan hamba kepada Tuhan dan memberi rasa kesejukan (uns) bersama Tuhan, lalu mengapa masih membutuhkan ilmu tashawuf, bukankah dengan demikian tashawuf adalah sisipan (bid’ah) terhadap Islam dan bukan termasuk bagian dari Islam?” Demikian gugatan yang tidak jarang kita dengar dari sementara kalangan.

Sebenarnya apabila gugatan di atas ini dibenarkan, maka gugatan yang sama haruslah diarahkan terhadap seluruh bidang studi ilmu keislaman termasuk ilmu al-Quran, ilmu hadits, ilmu fiqih dan lain-lain. Bukankah pada masa Rasulullah saw dan masa sahabat belum pernah dikenal istilah nasikh, mansukh, muhkam, mutasyabih dan lain-lain yang menjadi istilah dalam ilmu tafsir Al-Quran. Belum pernah pula dikenal istilah qiyas, istihsan, mu’aradhah, munaqadhah, thardu, syarath, sabab, ‘illat dan lain-lain yang menjadi istilah dalam ilmu fiqih. Belum pernah pula dikenal istilah jarh, ta’dil, ahad, mutawatir, masyhur, shahih, hasan, dha’if, gharib dan lain-lain yang menjadi istilah dalam ilmu hadits. Belum pernah pula dikenal jenjang pendidikan tingkat dasar, tingkat menengah, tingkat atas dan perguruan tinggi, berikut gelar-gelar kesarjanaan seperti Lc., magister dan doktor. Belum pernah dikenal pula ujian dengan pengajuan paper, skripsi, tesis dan disertasi. Apakah dengan demikian semua ini harus ditolak dan kita anggap sebagai bid’ah dhalalah? Pertanyaan ini kita jawab dengan tegas, bahwa semuanya bukan termasuk bid’ah dhalalah, termasuk pula ilmu tashawuf.

Lalu, bagaimana menjawab tuduhan bahwa tashawuf itu sisipan terhadap Islam?

Seorang shufi kontemporer Abdul Wahid Yahya berpandangan bahwa tashawuf adalah bagian inti dari agama Islam. Menurutnya, agama Islam akan berkurang tanpa kehadiran tashawuf. Agama akan berkurang dari aspeknya yang luhur, yaitu aspek yang berperan sentral dan fundamental. Karenanya termasuk asumsi murahan, pandangan yang mengatakan bahwa tashawuf bersumber dari ajaran yang asing dari Islam, seperti filsafat Yunani, India, Parsi dan Masehi. Pandangan ini akan berlawanan dengan istilah-istilah teknis keilmuan dalam dunia tashawuf yang kesemuanya berkaitan erat dengan bahasa Arab.

Pemberian keputusan bahwa tashawuf itu sisipan terhadap Islam tidaklah dapat diterima. Sebab sejak lahirnya Islam sendiri, kita dapati pandangan-pandangan yang menjadi ciri khas kalangan shufi Muslim, telah tumbuh di tengah-tengah masyarakat Islam sendiri, dari celah-celah rutinitas kaum Muslimin membaca al-Quran dan hadits, dan mempelajari al-Quran dan hadits. Mereka juga terpengaruh oleh sebagian peristiwa yang menimpa mereka dan kejadian-kejadian yang dialami individu mereka.

Ada lagi tuduhan, bahwa orang-orang shufi itu hanya “sibuk dengan dirinya sendiri”, alias tidak mau melaksanakan jihad untuk memperjuangkan agama. Bagaimana sebenarnya?

Hal itu tidak benar. Terbukti dalam sejarah, dari waktu ke waktu kaum shufi selalu berada di barisan terdepan di medan jihad. Biografi para shufi penuh dengan kisah-kisah pengorbanan, heroisme, dan keberanian dalam berjihad.

Syaqiq ibn Ibrahim al-Balkhi, tokoh shufi periode pertama (w. 194 H/810 M) ikut terjun dalam jihad. Ia gugur sebagai syahid di medang peperangan. Selanjutnya jejak beliau diikuti oleh muridnya, Hatim al-Asham. Ia memasuki medan jihad tanpa rasa takut dan gentar. Ia memiliki keyakinan mutlak terhadap Allah. Keyakinannya dapat dilihat dalam sejarah jihad yang dialaminya. Suatu ketika, pihak musuh berhasil menangkapnya, lalu seorang dari mereka membentangkannya di atas tanah dan hendak menyembelihnya. Hatim al-Asham menceritakan perasaannya pada detik-detik itu. Ia berkata: “Hatiku tidak peduli dengan keadaan itu. Aku hanya berpikir, keputusan apa kiranya yang akan Allah tetapkan atasku. Pada saat musuh itu mencari-cari pisau untuk menyembelihku, tiba-tiba sebuah anak panah menyerangnya dan berhasil membunuhnya. Sehingga aku segera berdiri dengan selamat.” Ia segera melanjutkan tugasnya berjihad.
Dan apabila melihat pertempuran al-Manshurah, kita akan menemukan tokoh-tokoh shufi terjun di dalamnya. Di antara mereka adalah Abu al-Hasan al-Syadzili. Usianya telah melewati 60 tahun dan pandangan kedua matanya telah uzur. Meskipun demikian, ia meninggalkan rumahnya dan pergi ke al-Manshurah, berpartisipasi dengan segenap kemampuan yang dimilikinya dalam berjihad.

Di antara tokoh shufi yang terjun ke medan jihad di abad modern adalah Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Ia termasuk tokoh besar shufi dan seorang panglima perang. Ia telah berjihad menghadapi koloni Perancis di negerinya, Aljazair.

Apabila kita menengok ke India, akan ditemukan tokoh-tokoh shufi yang menjadi pemimpin jihad. Di antara mereka terdapat pemimpin kaum shufi, Sayid Ahmad al-Syahid yang gugur sebagai syahid pada tahuan 1831 di pertempuran Balakut, India. Ketika ia menyerukan kaum Muslimin India untuk berjihad melawan koloni Inggris, masyarakat dari berbagai lapisan memenuhi seruannya untuk berjihad dengan bersemangat. Para petani meninggalkan ladangnya, para pedagang menutup tokonya, dan dengan suka rela mereka meninggalkan kampung halaman, dan mengasingkan diri dalam berjihad. Hingga akhirnya mereka gugur sebagai syahid di lembah Balakut dalam pertempuran. Dan sisanya kembali ke puncak-puncak gunung, membuat benteng pertahanan untuk melanjutkan jihad.

Kaum shufi juga berjasa besar dalam menjaga perbatasan dari serangan musuh. Istilah ribath, yang merupakan benteng peperangan yang kokoh, pada mulanya adalah khaniqah kaum shufi yang melakukan penjagaan di perbatasan dari serangan musuh. Pulau Abbadan pada mulannya adalah ribath, yang di situ berkumpul para sukarelawan dari Basrah untuk menjaga perbatasan Islam.

Juga ribath Munastir di Tunis pada abad ke-2 H, ribath al-Fath dan ratusan ribath lainnya yang merupakan benteng-benteng pertahanan dan sekaligus berfungsi sebagai khaniqah kaum shufi. Demikian pula zawiyah-zawiyah kaum shufi di Maroko, yang sekaligus difungsikan sebagai ribath. Sementara di Timur, Sultan Nuruddin Zanki pada tahun 453 H/1072 M telah mendirikan khaniqah kuno di Aleppo. Sultan Nuruddin Zanki ini, selain dikenal sebagai perancang dan pendiri berbagai peperangan melawan kaum Salibis, beliau juga seorang shufi.

Agaknya perlu juga dikemukakan di sini, bahwa di antara jasa-jasa kaum shufi yang layak diabadikan dengan tinta emas, adalah pengabdian mereka selama 70 tahun dalam memelihara akidah kaum Muslimin di Asia tengah, di bawah tekanan pemerintahan komunis dan ateis, Uni Soviet. Kaum shufi telah memberikan berbagai pengorbanan dalam upaya memelihara agama Islam di negeri-negeri Muslim yang kelam itu. Puluhan ribu para dai telah dibantai dan disiksa oleh pemerintahan komunis. Sementara para guru kaum shufi menggunakan strategi bersembunyi di siang hari dari intaian para intel, dan mendirikan pusat-pusat rahasia di dalam rumah-rumah untuk menyiarkan ajaran Islam. Dengan demikian mereka berhasil dalam memelihara percikan cahaya Islam dan menjaga nyala api iman di hati ratusan juta kaum Muslimin di Asia Tengah.

Bahkan dalam penyebaran Islam, peran tokoh-tokoh tashawuf sangat besar.

Benar. Para shufi telah menyiarkan dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia. Bermodalkan akhlak luhur dan kekeramatan cemerlang, kaum shufi berhasil membuka pintu hati manusia, pergi ke daerah-daerah yang jauh di Timur dan di Barat.

Dalam hal penyebaran Islam di Indonesia, yang diakui sebagai komunitas Muslim terbesar di dunia, disepakati oleh para pakar bahwa tersebar luasnya Islam di negeri kita, bukanlah melalui ekspedisi militer Islam yang dikirim oleh para Khalifah Abbasiyah di Baghdad, atau melalui ekspedisi militer Inkisyariyah yang dikirim oleh para Khalifah Utsmaniyah di Istanbul. Tersebar luasnya Islam di Indonesia disepakati sebagai jasa-jasa para shufi, termasuk generasi Wali Songo di Jawa, yang kesemuanya bermazhab Syafi’i dan berideologi Asy’ari. Dakwah mereka berhasil gemilang menancapkan Islam di bumi nusantara ini dalam-dalam, sehingga mencapai angka sembilan puluh persen. Mengenai masuknya Islam berkat jasa juru dakwah dari kalangan Shufi Hadhramaut Yaman, dapat dilihat misalnya di buku Prof. KH. Abdullah ibn Nuh, al-Imam al-Muhajir.

Menurut Abdurrahman Al-Badawi, peran kaum shufi, terutama tarikat-tarikat shufi, sangatlah besar dan luar biasa dalam menyebarkan dakwah Islam di negeri-negeri non-Muslim. Sebagai contoh adalah di India. Louis Massignon mengakui bahwa tersebarnya Islam di India bukanlah melalui peperangan. Bahkan Islam tersebar di India berkat jasa-jasa kaum shufi dan tarikat-tarikat besar seperti tarikat Jasytiyah, Kubrawiyah, Syathariyah dan Naqsyabandiyah. Interaksi sosial kaum shufi dengan penduduk setempat sangatlah berpengaruh besar. Dalam hal ini, kaum shufi hanya memberi bantuan, tetapi tidak menuntut balasan. Mereka memberi hutangan, tetapi tidak mengharapkan imbalan.

Keteladanan baik yang ditampakkan oleh para shufi dan guru-guru tarikat Jasytiyah, Syathariyah dan Naqsyabandiyah, di samping upaya mereka untuk mempelajari bahasa daerah setempat serta pembauran dengan kehidupan masyarakat umum, telah mengantarkan banyak masyarakat Hindu dan Melayu yang memeluk Islam.

Di antara tokoh shufi yang diakui perannya dalam penyebaran Islam ke seantero dunia adalah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, pendiri tarikat Qadiriyah yang menyandang gelar Sulthan al-Awliya’. Melalui murid-muridnya dan generasi penerus mereka yang tergabung dalam keluarga besar tarikat Qadiriyah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berperan besar dalam memelihara ruh Islam, menjaga nyala api iman dan semangat dakwah dan jihad di jalan Allah. Pengikut Qadiriyah telah berperan besar dalam penyebaran Islam ke daerah-daerah yang jauh, yang belum pernah dijamah oleh ekspansi militer kaum Muslimin dan belum mampu ditundukkan ke dalam pemerintahan Islam. Wallahu a’lam.

Oleh : Faris Khoirul Anam