Masyaallah ! Ulama Al-Azhar Puji Bacaan Al-Qur'an Langgam Nusantara


Islamoderat.com ~ Apa tanggapan ulama Al-Azhar tentang pembacaan Alquran dengan menggunakan langgam dari budaya Indonesia (Jawa)? 

1. Syaikh Jamal Faruq ad-Daqqaq (Dekan fakultas Da'wah Universitas al-Azhar dan anggota ulama pakar al-Azhar)

Kepada Syaikh Jamal Faruq ad-Daqqaq (dekan fakultas Da'wah Universitas al-Azhar dan anggota ulama pakar al-Azhar) kami perlihatkan video bacaan Alquran secara utuh yang dibaca oleh qori pada acara Isra` Mi'raj di istana negara respon beliau setelah kami tanyakan soal bacaan sang qori dengan langgam jawa tersebut lalu beliau berkata "bacaan ini unik sekali, menunjukan bahwa yang membaca adalah bukan orang Arab (natijatul-'ujmah) dan orang ajam memiliki langgam (lahnun dalam bahasa Arab) dan cara mengejanya tidak sepenuhnya sama seperti lisan orang Arab, maka dari itu harus diperhatikan thoriqoh al-adaa` (cara eksekusi bacaan) dan maka dari itu ada bab qiroaat sab'ah yang merupakan salah satu latar belakangnya adalah permasalah ini".

Bahkan beliau tidak segan memuji sang qori dengan mengatakan "sang qori memperhatikan betul kaidah tajwid dengan pengahayatan saat membacanya".

2. Syekh Ahmad Hajin (Pengajar ilmu Hadis di al-Azhar) 

Kemudian kami perlihatkan juga kepada syaikh Hajin (pengajar ilmu Hadis di al-Azhar) video bacaan Alquran yang dibaca oleh qori pada acara Isra` Mi'raj di istana negara, kemudian kami tanyakan pertanyaan serupa, respon beliau pada awalnya merasa aneh namun manggut-manggut karena baru mendengar bacaan Alquran dengan naghom Jawa dan pada akhirnya sama seperti syaikh Jamal Faruq, beliau mengatakan yang terpenting membacanya dengan tajwid memperhatikan tajwid dan faham ma'nanya karena irama itu mengikuti artikulasi teks yang dibacanya".

3. Syaikh Toha Hubaisyi (Anggota pentashih Alquran Mesir dan pengajar senior ilmu Tasawuf dan hafal kitab Ihya Ulumuddin milik Imam al-Ghazali)

Kemudian kepada Syaikh Toha Hubaisyi (anggota pentashih Alquran Mesir dan pengajar senior ilmu Tasawuf dan hafal kitab Ihya Ulumuddin milik Imam al-Ghazali). Beliau dahulu melihat dengan jelas namun kini Allah mengambil penglihatan zahirnya dan menggantikannya dengan penglihatan batin (hal ini sudah masyhur di al-Azhar) sehingga saat kami menghadap kepada beliau barusan setelah mengaji Ihya sekaligus perayaan Isro` Mi'raj yang beliau katakan kepada kami, bahwa kami diundang oleh Rasul SAW untuk menerima jamuan Rasul SAW.

Lalu setelah kami menghadap dan mengucap salam beliau bertanya "kalian berasal dari mana?" kami pun menjawab "Indonesia ya mawlana" tahukah anda apa yang beliau katakan selanjutnya? Beliau katakan "saya baru saja pergi ke negara kalian".

Kami pun kaget bercampur rasa senang karena negara kita dikunjungi ulama robbani seperti beliau, tapi setelah itu beliau berkata "saya datang ke Indonesia dalam mimpi", sontak kami pun kaget terperanga karena haibah dan kasyaf beliau, lalu kami tanyakan "lalu pergi ke mana saja wahai syaikh di negara kami?"

Beliau menjawab "saya pergi ke suatu masjid dan solat di dalamnya, masjid itu berdiri di atas air, masjid itu terbuat dari kayu dan di bawahnya air". Allah, Allah, Allah para murid dari Indo dan Mesir, Thailand dan Afrika pun terperanga. Sang murid pun yang mulazamah dengan beliau pun mengiyakan apa yang Syaikh Toha sampaikan, karena syaikh Toha telah memberitahu sebelumnya kepada murid yang selalu bersamanya itu.

Lalu kami langsung kepada pertanyaan, sekali lagi, karena penglihatan zahir beliau tidak aktif dan hp saya yang menyimpan video itu lowbatt langsunglah kami tanyakan perihal masalah membaca Alquran dengan nagham selain Arab, tahukah kalian apa jawaban beliau? Beliau menjawab "Masmuh (dipersilahkan), boleh dengan syarat tetap memperhatikan mahraj dan kaidah tajwid, karena seorang yang membaca Alquran dengan bahasa Arab ketika yang membacanya mengerti atau tidak, tepat atau tidak hakikatnya maknanya telah sampai kepada Allah".

Dari hasil respondensi kami sementara kepada para masyayikh dapat diketahui bahwa masalah ini sebenarnya tidak terlalu besar karena sebagaimana yang dijelaskan syaikh Jamal Faruq bahwa dahulu saat Alquran tersebar ke berbagai negeri dan menemukan persoalan pengejaan lafaz Alquran yang berbahasa Arab sehingga hal ini menjadi salah satu latar belakang Alquran diturunkan dalam 7 bacaan (bukan varian, baca tulisan kritik Syaikh Mus. tafa A'zhami atas terjemah Qiroat Sab'ah ke dalam bahasa Inggris)..


Dan melalui pendekatan hadis sebagaimana diketahui bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan Baihaqi dengan derajat lemah sekali adapun ada yang mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Malik dan al-Nasa’i adalah tidak benar karena tidak pernah ditemukan, untuk pendeketan hadis ini sudah banyak yang membahas, silahkan rujuk kitab-kitab hadis dan dalil yang menyebutkannya.

Dan sebagaimana dikatakan oleh Kiai Amad Baso bahwa "membaca Alquran dengan langgam Nusantara seperti ini harus dihayati bukan dirasionalisasi, karena ini soal efek dakwah Islam kepada masyarakat yg lebih ampuh dibanding cara lidah Arab model Hushari. Kalau kita terbiasa mendengar tembang Jawa yg diciptakan oleh Wali Songo, seperti Dandanggulo, Sinom, Kinanthi, dan seterusnya, maka akan terasa sekali pengaruh dahsyat membaca ayat-ayat Kalam Ilahi dengan lagu Dandanggulo dan seterusnya tersebut ke dalam jiwa penduduk. Hal serupa bisa dilakukan di daerah lain, di mana kesatuan dari keragaman langgam itu berhimpun menjadi satu ciri khas Islam di Indonesia, KARAKTER ISLAM NUSANTARA".

Demikian tulisan ini sengaja dibuat sederhana namun memiliki validitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Sekian.

Oleh : Ahmad Faris Basha
Via Suara Al Azhar / http://on.fb.me/1HcdoUj