Inilah Rahasia Dakwah Ulama Syam; berdakwah dengan akhlak


Islamoderat.com ~ Di akhir-akhir kekuasaan Turki Ottoman, dinasti itu tidak lagi murni dikuasai oleh bangsa Turki Muslim, tapi sudah banyak di dalamnya Yahudi Donme atau Donma, merekalah yang mnegacak-acak dari dalam, sehingga Pemerintah melemah. Wilayah kekuasaan mulai sedikit-sedikit terlepas akibat rakyatnya memberontak, Gubernur-gubernur yang ada di wilayah-wilayah itu juga tidak ada yang beres, kebodohan terjadi dimana-mana, khususnya di Syam dan Iraq. 



Di Turki sendiri muncul sekelompok pemuda-pemuda terpelajar yang mendirikan ─░ttihad ve Terakki Cemiyeti (Committee of Union and Progress) pada tahun 1894, yang isinya tidak lain adalah Yhaudi Donme, dimana saat itu Turki disebut sebagai the sick man of Europe, akhirnya Komite tadi ingin melakukan revolusi. Ditambah lagi setelah pengasingan Sultan Abdul Hamid II, sultan selanjutnya cuma sekedar boneka.

Saat mengusir Theodore Hertzl dari istananya, karena meminta tanah Palestina, Sultan sudah mengira bahwa tindakan itu akan segera dibalas dengan tahta bahkan dengan nyawanya, tapi Sultan Abdul Hamid lebih takut pada Allah, sehingga ucapan beliau terkenal dalam sejarah, “Tanah Palestina yang dipertahankan dengan darah syuhada, tidak akan aku berikan kepada kalian walaupun sejengkal, meskipun kalian menukarnya dengan gunungan emas”.

Setelah “pembodohan” pada masa kekuasaan Turki, ditambah lagi perang dunia l, Syam benar-benar hancur, generasi-generasi muda sudah tidak bisa diharapkan, illiterasi dimana-mana, bahkan lebih jauh dari itu, sebagian daerah pedalaman seperti Hauran (Dekat Dar’a perbatasan Suriah dan Jordania) masyarakatnya malah sudah jauh sekali melenceng dari Islam, padahal dulu Hauran itu banyak melahirkan Ulama-ulama besar, sebut saja contohnya Imam Nawawi.

“Tanpa kamu, Islam akan tetap ada, karena Islam itu agama Allah, Allah yang akan menjaganya”. Allah mengirim seorang Ulama ke Syam, yaitu sheikh Aly Daqar (1877 M). Yang memulai dakwahnya dari sebuah masjid di Old Damascus, dan berkat usaha beliau, Hauran kembali “masuk Islam” dan Damascus kembali bersinar dnegan ilmu. Sheikh Aly Daqar ini sering disebut di Damascus sebagai “Laki-laki yang dipakai Allah untuk menghidupkan umat”.

Suatu ketika, seorang murid bertanya kepada beliau, “Kami menghadiri pengajian di tempat lain, pengajian fiqih, tafsir, hadis…tapi kenapa rasanya berbeda dengan pengajian pada anda wahai sheikh? Padahal anda cuma mengajarkan akhlak dan adab?”

Beliau menajwab, “ Wahai anakku, kalau bukan karena perlu aku tidak akan berbicara, pengajian yang kamu dengar ini tidak ada apa-apanya kalau bukan karena dukungan 10 juz bacaan quran sebelum fajar, aku niatkan semoga apa yang ku katakan bermanfaat bagi umat”. kisah ini diceritakan oleh sheikhna Prof. Dr. Musthafa Saied Al khin rahimahulah.



Itu rahasianya, jadi tidak aneh kalau sheikh Badruddin Hasany bisa “mengislamkan” kembali ratusan pelacur hanya dengan kiriman hadiah dan permintaan doa, tidak heran kalau sheikh Mulla Ramadhan Al Buty bisa membuat penyamun menjadi ahli ibadah hanya dengan sering memberi salam, yang terlihat usaha mereka “gitu-gitu doang”, tapi ternyata yang tak terlihat adalah sebuah usaha besar luar biasa. 

Mereka menundukkan hati manusia dengan mengemis pada Pemilik hati. Rahimahumullah Ajmain