KH Drs Muchit Muzadi Jember Meninggal, 6 September 2015/23 Dzul Qa'dah 1436 H


Islamoderat.comInna lillahi wa inna ilaihi roji'un. KH Drs Abdul Muchit Muzadi Jember, sesepuh NU dan kakak KH Hasyim Muzadi, meninggal dunia dini hari menjelang shubuh, Ahad (6/9/2015) di rumah sakit Persada Malang.

Jenazah akan dishalatkan di Masjid Al-Hikam Malang atau di komplek pesantren yang dipimpin KH Hasyim Muzadi. Jenazah kemudian diberangkatkan ke Jember, tanah kelahirannya. KH Muchit Muzadi wafat pada usia 90 tahun. Ia lahir di Jember Jawa Timur pada 1925, beberapa bulan sebelum NU dideklarasikan.

Mbah Muchit adalah sesepuh NU, santri Rais Akbar NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dia dikenal sebagai ulama yang sering diminta menjelaskan konsep Khithah (garis perjuangan pada awal kelahiran) NU pasca-keputusan Khittah NU melalui Muktamar 1984 di Pesantren Salafiyah Syafi'iyyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo.
     
Mbah Muchith pernah menjadi sekretaris Rais Aam NU KH Achmad Shiddiq pada tahun 1980-an serta menjadi mustasyar PBNU untuk beberapa periode. Sampai akhir hayatnya, Mbah Muchit senantiasa memikirkan NU dan dalam kondisi sakit pun ia hadir dalam kegiatan-kegiatan NU terutama dalam kegiatan kaderisasi NU yang diikuti oleh anak-anak muda NU.

Murid Hadhratusy Syaikh 
Sejak kecil, almarhum aktif di dunia pergerakan hingga kemerdekaan. Setelah belajar di Pesantren Tuban, dia melanjutkan belajar kepada Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng Jombang. Pada tahun 1941, saat usianya masih 16 tahun, ia telah menjadi anggota NU melalui pendaftaran di Ranting NU Tebuireng. Di Tebuireng, dia juga belajar berorganisasi. Di sana, bertemu beberapa santri terkenal dari daerah lain, di antaranya KH Ahmad Shidiq.
     
Setamat dari Tebuireng, dia kembali ke kampung halamannya di Tuban dengan mendirikan Madrasah Salafiyah (1946). Walaupun sebagai guru, ia juga ikut berjuang melawan penjajah dengan menjadi anggota Lasykar Pejuang.
     
Pada tahun 1952, Kiai Muchit mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI), selanjutnya pada tahun 1954 juga mendirikan Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama. Saat menjadi pegawai di IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta (1961), dia mengikuti kuliah di Universitas Cokroaminoto.

Dari Yogyakarta, dia ditugaskan di IAIN Malang pada tahun 1963 dan tahun itulah merintis SMP NU. Begitu juga ketika menjadi Pembantu Dekan II di IAIN Sunan Ampel Jember, dia juga mendirikan Madrasah Tsanawiyah. Penugasan ke IAIN Sunan Ampel Jember membuatnya bertemu lagi dengan sahabat seperguruannya yang menjadi pengasuh pesantren di Jember, yaitu KH. Achmad Shidiq. Dia menemukan teman diskusi yang seimbang dan akhirnya banyak menulis tentang pemikiran keislaman.

Gus Mus menjenguk KH Muchid Muzadi

Ketika sahabatnya itu menjadi Rais Aam Syuriyah PBNU, ia membuat rumusan konseptual mengenai Aswaja, menuntaskan hubungan Islam dengan negara, dan mencari rumusan pembaruan pemikiran Islam, serta strategi pengembangan masyarakat NU, sehingga ia menjadi sekretaris pribadi KH Achmad Shidiq. Sukses "duet" KH Ahmad Shiddiq-KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur) dalam memimpin NU tidak bisa lepas dari pikiran kreatif KH Muchit Muzadi yang menjadi "penasehat" pemikiran KH Ahmad Shidiq.

Kalau ada kiai disebut sebagai pakar khithah, maka yang dimaksud adalah KH Abdul Muchit Muzadi. Salah satu deklarator PKB. Sebab kiai kelahiran Tuban tahun 1925 inilah yang punya konsep khithah, kembalinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU) ke kancah perjuangan keagamaan, meninggalkan dunia politik praktis.

Sejak diputuskan khithah bagi Jam’iyah NU pada Muktamarnya tahun 1984 di Ponpes Salafiyah syafi’iyyah Sukorejo, Situbondo, kesibukan Mbah Muchit (sapaan akrabnya) bertambah. Sebab mbah Muchit-lah yang selalu memberikan penjelasan masalah khithah ke masyarakat. Selain itu juga sering menulis tentang khithah di majalah AULA terbitan PWNU Jawa Timur.
     
Kendati kelahiran daerah pesisir yang kebanyakan bertemperamen keras, tetapi tidak ada sifat keras pada diri mbah Muchit, bahkan sebaliknya penuh dengan kesabaran dan tawadlu’, bahkan terkesan sangat hormat kepada siapa saja yang bertamu kepadanya. Hal ini karena keilmuannya yang tinggi dan sudah banyak “makan garam” kehidupan. Pada suatu kesempatan mbah Muchit mengatakan bahwa dirinya dipanggil kiai karena dia punya adik seorang kiai, yakni KH. Hasyim Muzadi pengasuh pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang, yang kla itu menjadi Ketua Umum PBNU. 
Diwawancarai wartawan sebagai nara sumber NU.

"Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari bumi akan tetapi Allah mengambil ilmu-Nya dengan mewafatkan para ulamanya. Ketika Allah SWT tidak menyisakan orang-orang ‘alim di situ, para manusia menjadikan orang-orang bodoh (bukan ahli ilmu) sebagai tempat bertanya, maka ia berfatwa tanpa ilmu lalu sesatlah dan menyesatkan," (HR Bukhari).

Allahummaghfir lahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu.
     Saiful Bahri