NU Tunisia Bedah "Kontroversi Murtad dalam Khazanah Kontemporer"


Islamoderat.comDalam rangka menyambut tahun akademik baru, PCINU Tunisia menggandeng Persatuan Pelajar Indonesia di Tunisia mengadakan diskusi dengan tema ”Kontroversi murtad dalam konteks kekinian,” Jumat (11/09) di sekretariat PPI Tunisia, Nahj Ras Eddarb, Makhla Zeim, Tunis.

”Tema ini penting untuk kita diskusikan, mengingat men-judge ’lawan’ telah murtad dan kafir kian marak di masyarakat,” tutur A. Muntaha Afandie memulai pemaparannya. ”Bahkan keduanya, sepanjang sejarah, sering dijadikan sebagai senjata untuk menghancurkan lawan,” lanjut ketua tanfidz PCINU Tunisia.

Diskusi yang dihandle oleh Departeman Kaderasasi PCINU Tunisia dan Litbang PPI Tunisia, merupakan acara rutinan Kafe Literasi yang membedah pemikir-pemikir Tunisia. Dalam diskusi ini, kedua pembicara membedah tesis Amel Grami, guru besar Pemikiran Islam di Departement d’Arabe, Universite de la Manouba, Tunisia.

NU Tunisia Gelar Diskusi, Membuka Tahun Akademik Baru

Dalam buku berjudul Qadliyyah al-Riddah fi al-Fikr al-Islami, Grami membagi murtad termasuk bagian dari syariat Islam yang tidak relevan untuk diterapkan dalam era modern.

“Untuk itu, Madame Amel –mengutip consensus sebagian sarjana modern—melihat hukuman mati bagi orang yang murtad tidak memiliki pengaruh yang signifikan,” masih menurut Muntaha.

“Hukuman yang tepat bagi si murtad cukup diasingkan, memaksa mereka untuk pindah. Ini jelas lebih menyakitkan dari hukuman mati,” kata pria berkaca mata minus itu, mengutip statement Grami.

Sedangkan pembicara kedua, Kholilurrahman, mahasiswa Pascasarjana Universitas Zitouna memberikan ulasan bahwa riddah berasal dari bhasa irtadda ‘an yang berarti kembali. YAkni kembalinya sesuatu dari sesuatu yang lain. Oleh karena itu dengan berlandaskan kisah NAbi Yakub yang kehilangan Nabi Yusuf Amel mendefinisikan riddah dengan ‘kembali’.

Sehingga menurut dosen jurusan antropologi agama ini kata murtad tidak relevan diaplikasikan untuk orang yang berpindah agama, keluar dari islam. Ada istilah husus yang lebih pantas yaitu shobi’.

diskusi nutunisia.pe.hu

Bahkan selama ini riddah  mengalami perluasan. Bukan saja orang yang secara lantang keluar dari islam namun lebih jauh. Orang yang dengan berani mengkritisi hal-hal final pun kini dianggap murtad. Sebagai contoh seorang cendekiawan mesir, Ali Abdul Raziq saat mengkritisi hal khilafah Islamiyah. Jadi menurut editor Harian Syuruq, konsep riddah masih rancu dan rumit.[]


sumber : nutunisia