PCI NU Tunisia dan BNPT Adakan Penyuluhan Penanggulangan Aksi Terorisme di Tunisia


Islamoderat.comTunisia. Beberapa bulan yang lalu Tunisia mendapat serangan dari beberapa orang yang tidak bertanggung jawab. Beberapa korban berjatuhan, terutama tamu-tamu wisata yang berkunjung ke Tunisia. Sontak aksi teror ini menohok iklim wisata negara Tunisia dengan dibatalkannya sekitar 200 ribu pemesanan kamar hotel yang otomatis membuat beberapa pengusaha kecil bangkrut.


Ya, aksi terorisme di belahan dunia mana pun tak bisa dibenarkan. Aksi yang baru-baru ini telah menggegerkan dunia atas nama islam telah membuat beberapa kalangan dari para cendekiawan, agamawan dan bangsawan paranoid. Secara tidak langsung dunia tergiring dalam arus opini yg disatukan: islamphobia.

Puji syukur kepada Allah swt, PCI NU Tunisia bersama KBRI Tunis dan masyarakat Indonesia di Tunis mengadakan sosialisasi penanggulangan gerakan terorisme Ahad (2/9) bersama tim BNPT di wisma dubes Les Bergas du Lac, Tunis.

Tim BNPT yang datang ke Tunisia ada empat orang. Mereka menyengajakan berkunjung ke Tunisia guna memperkokoh barisan kesatuan masyarakat Indonesia dalam menolak gerakan terorisme manapun. Bertindak sebagai narasumber Brigjend. Prank Very G.

BNPT adalah badan nasional yang dibentuk melalui Inpres (Instruksi Presiden) Nomor 4 Tahun 2002 sebagai bentuk tanggapan pemerintah atas maraknya gerakan terorisme di Indonesia pascabom bali pada 12 Oktober 2002.

Dalam paparannya sekitar 2 jam, Ketua BNPT ini memeberikan ulasan-ulasan menarik seputar gerakan terorisme. Acara disetting seramah mungkin. Diawali dengan pemutaran video "islam agama salam", dan"hati-hati dgn informasi" acara dimulai. Setelah pemutaran video baru masuk sesi penjelasan ttg seluk beluk gerakan terorisme  seperti mengelupasi latar belakang adanya gerakan terorisme, tujuan dari terorisme, siapa saja yg menjadi promotornya, hinggga peta penyebarannya.

Dari beberapa pemaparan BNPT ada beang merah yang musti diperhatiakn bahwa selama ini gerakan terorisme seakan-akan bermula dan tumbuh dari ajaran agama kita, islam. Padahal islam tak mungkin memberikan doktrin penghancuran dan intimidasi semacam itu. "Semua ini terjadi karena minimnya pemahaman agama seseorang. Belajar secara instan dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan . Sehingga pemahaman terhadap islam bias", papar Brigjend. Prank Very G. 
Di ahir acara yg dihadiri juga oleh Dibes RI untuk libya, dibuka sesi tanya jawab. Beberpa mahasiswa sempat betsahutan mengajukan pertanyaan dan tanggapan. Namun karena minimnya waktu, pertanyaan dibatasi hanya tiga.

Rais Syuriah PCI NU Tunisia, Dede A. Permana mengambil kesempatan itu. Diawali dengan pernyataan persetujannya atas penolakan gerakan terorisme lalu disusul dengan analisanya atas gerakan-gerakan islam radikal di Indonesia seperti HTI dia melontarkan pertanyaan. “Mengapa pemerintah masih memberikan kemudahan-kemudahan seperti fasilitas untuk ormas-ormas yang secara jelas tidak mengakui kedaulatan RI? Sebut saja HTI saat melakukan konferensi di Stadion GBK”, papar mahasiswa kandidat doctor Universitas Ez-Zitouna.

Semoga pemerintah semakin jeli dalam mengevaluasi gerakan-grakan radikal yang semakin hari subur dengan para pemuda yang masih “mencari”.[AJU] 


Via PCI Nu Tunisia